MENGHORMATI TAMU DAN TETANGGA SERTA MENYANTUNI KAUM DHU’AFA

MENGHORMATI TAMU DAN TETANGGA SERTA MENYANTUNI KAUM DHU’AFA
BAB I
PENDAHULUAN

A.1. LATAR BELAKANG

Dalam kehidupan sosial kita tidak akan lepas dari dari ketiga unsur ini, yaitu tentang tamu, tetangga dan mengasihi para dhuafa. Maka dengan tiga masalah ini, kami sedikit menguraikan bagaimana cara kita untuk mengabdikan diri kepada sang Khalik dengan cara, menghormati, mengasihi, menyayangi, mengutamakan mereka, agar supaya pengabdian ini benar-benar diterima di sisiNya. Karena dalam suatu hadist di sebutkan “Barang siapa yang tidak memenuhi undangan maka ia telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Bukhari), “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya tidak menyakiti tetangganya” Dalam hadist lagi diterangkan, Seorang bertanya kepada Nabi Saw, “Islam yang bagaimana yang baik?” Nabi Saw menjawab, “Membagi makanan (kepada fakir-miskin) dan memberi salam kepada yang dia kenal dan yang tidak dikenalnya.” (HR. Bukhari), dan lagi Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling cinta kasih dan belas kasih seperti satu tubuh. Apabila kepala mengeluh (pusing) maka seluruh tubuh tidak bisa tidur dan demam. (HR. Muslim). Dengan latar belakang tersebut kami disini menyuguhkan tentang bagaimana cara menggapai ketiga masalah tersebut, sehingga atas dorongan Dosen terwujudlah apa yang ada di tangan anda ini, semoga ada manfaat dan gunanya.

A.2. RUMUSAN MASALAH

Rumusan masalah materi dalam makalah ini diarahkan pada Pembahasan Cara menghormati dan memuliakan tamu, tetangga dan dhu’afa dan pengertian secara tekstual maupun kontekstual, sehingga pemahaman nanti tidak monoton. Dan juga kami uraikan istimbat hukum dalam setiap pembahasan dan di sertai pendapat para ulama yang mana semua nanti insya allah akan kami bahas.

A.3. TUJUAN DAN MANFAAT

Tujuan makalah ini untuk memahami pentingnya menghormati dan memuliakan tamu, tetangga dan dhu’afa sera kewajiban kita sebagai pemeluk Agama islam. Sehingga pembahasan ini nanti bisa bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi masyarakat. Karena perbuatan yang baik atau terpuji atau tercela terhadap Allah SWT dinamakan hubungan vertical, sedangkan perbuatan yang berhubungan dengan perkara yang terpuji atau tercela terhadap sesama manusia atau alam sekitar dinamakan hubungan horizontal. Yang mana tujuan utama nanti untuk membentuk manusia seutuhnya.semoga makalah ini adamanfaat dan barakahnya.

BAB II
PEMBAHASAN
MEMULIAKAN TAMU DAN MENGUTAMAKANNYA.
a. Hadist yang menerangkan

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ اِلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمْ فَقَالَ إِنِّى مَجْهُوْدٌ، فَاَرْسَلَ اِلَى بَعْضِ نِسَائِهِ فَقَالَتْ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِى اِلاَّ مَاءٌ ثُمَّ اَرْسَلَ اِلىَ اُخْرَى فَقَالَتَ مِثْلَ ذَلِكَ حَتَّى قُلْنَ كُلُّهُنَّ مِثْلَ ذَلِكَ لاَ وَالَّذِى بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا عِنْدِى اِلاَّ مَاءٌ فَقَالَ مَنْ يُضِيْفُ هَذَا اللَّيْلَةَ رَحِمَهُ اللهُ ؟ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ اْلاَنْصَارِ فَقَالَ : اَنَا يَا رَسُوْلَ اللهِ فَانْطَلَقَ بِهِ اِلىَ رَحْلِهِ فَقَالَ ِلإِ مْرَأَتِهِ هَلْ عِنْدَكِ شَىْءٌ قَالَتْ : لاَ اِلاَّ قُوْتَ صِبْيَانىِ قَالَ فَعَلِّلِيْهِمْ بِشَىْءٍ فَاِذَا دَخَلَ ضَيْفُنَا فَأَطْفِئِ السِّرَاجَ وَاَرِيْهِ اَنَا نَأْكُلُ فَأِذَا اَهْوَى لِيَأْكُلَ فَقُوْمِىْ اِلَى السِّرَاجِ حَتَّى تُطْفِئِيْهِ قَالَ فَقَعَدُوا وَاَكَلَ الضَّيْفُ فَلَمَّا اَصْبَحَ غَذًا عَلَى الَّنبِيِّ صَلَى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : قَدْ عَجِبَ اللهُ مِنْ صَنِيْعِكُمَا بِضَيْفِكُمَا اللَّيْلَةَ.

Dari abu Hurairah ra katanya: seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. Lalu dia berkata. “aku dalam kesulitan (susah hidup dan lapar).” Maka beliau bawa orang itu kerumah istri beliau satu persatu, menanyakan kalau-kalau mereka ada sedia makanan. Para istri beliau menjawab “demi Allah yang mengutus Anda dengan yang haq, aku tidak sedia apa-apa selain air.”begitulah jawaban mereka masing-masing. Lalu bersabda beliau kepada para sahabat. “siapa besedia menerima tamu malam ini niscaya dia diberi rahmat oleh Allah ta’ala. Maka berdirilah seorang laki-laki Anshor seraya berkata: Aku ya Rasulullah!” maka dibawalah orang itu kerumahnya.diabertanya kepada istrinya, “adakah engkau sedia makanan? “jawab istrinya, tidak ada kecuali makanan anak-anak.” Katanya “bujuklah mereka dengan apa saja. Bila tamu kita telah masuk. Tunjukkan kepadanya bahwa kita makan bersamanya, bila dia telah mulai makan, berdirilah kedekat lampu lalu padamkan. Maka duduklah mereka, dan sang tamupun makanlah. Setelah subuh. Sahabat tersebut bertemu nabi saw. Lalu kata beliau. “Allah kagum dengan cara kamu berdua melayani tamu kalian tadi malam. HR. Bukhori 1966.
مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيُجِلُّ كَبِيْرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا
“Barang siapa yang tidak mengasihi yang lebih kecil dari kami serta tidak menghormati yang lebih tua dari kami bukanlah golongan kami.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad).
b. Pemahaman secara Tekstual
Dalam hadis dijelaskan bahwa Nabi memerintahkan menghormati dan menjamu tamu, serta mengasihi golongan yang lebih kecil.
c. Pemahaman secara Kontekstual
Apa saja yang kamu miliki maka berikanlah untuk menghormati tamu, walaupun itu sangat merugikan kamu sendiri. Dan hormatilah orang-orang yang ada di sekeliling kamu baik yang sudah tua maupun yang masih muda.
d. Istimbat Hukum
Bagi seorang yang tamu atau yang ditamui, hendaknya memenuhinya sesuai waktunya kecuali ada udzur, seperti takut ada sesuatu yang menimpa dirinya atau agamanya. Hal ini berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Barangsiapa yang diundang maka datangilah!” (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Untuk menghadiri undangan maka hendaknya memperhatikan syarat-syarat berikut:
a) Orang yang mengundang bukan orang yang harus dihindari dan dijauhi.
b) Tidak ada kemungkaran pada tempat undangan tersebut.
c) Orang yang mengundang adalah muslim.
d) Penghasilan orang yang mengundang bukan dari penghasilan yang diharamkan. Namun, ada sebagian ulama menyatakan boleh menghadiri undangan yang pengundangnya berpenghasikan haram. Dosanya bagi orang yang mengundang, tidak bagi yang diundang.
e) Tidak menggugurkan suatu kewajiban tertentu ketika menghadiri undangan tersebut.
f) Tidak ada mudharat bagi orang yang menghadiri undangan.
g) Tamu adalah anugerah karena tamu membawa berkah tersendiri, sehingga dalam islam ditegaskan melalui Al-Quran maupun Al-Hadist secara panjang lebar, entah tamu tersebut bertujuan baik maupun jelek, maka menurut hemat kami hormatilah semua tamu yang datang kerumahmu, karena itu, kita harus selalu Menghormati tamu dan menyediakan hidangan untuk tamu tersebut untuk memberikan makanan semampunya saja. Akan tetapi, tetap berusaha sebaik mungkin untuk menyediakan makanan yang terbaik. Allah ta’ala berfirman yang mengisahkan Nabi Ibrahim ‘alaihis salam bersama tamu-tamunya yang diterangkan dalam Al-Quran: “Dan Ibrahim datang pada keluarganya dengan membawa daging anak sapi gemuk kemudian ia mendekatkan makanan tersebut pada mereka (tamu-tamu Ibrahim-pen) sambil berkata: ‘Tidakkah kalian makan?’” (Qs. Adz-Dzariyat: 26-27), maka posisi tamu disini sangat penting untuk diperhatikan, di hormati dan di layani sebaik-baik mungkin.
h) Disunahkan mengucapkan selamat datang kepada para tamu sebagaimana hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya tatkala utusan Abi Qais datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda,“Selamat datang kepada para utusan yang datang tanpa merasa terhina dan menyesal.” (HR. Bukhari-Muslim)
i) Mendahulukan tamu yang sebelah kanan daripada yang sebelah kiri. Hal ini dilakukan apabila para tamu duduk dengan tertib.
Adapun tatacara bertamu dan menerima tamu sebagai berikut:
1. Adab bertamu
a. Berniatlah bahwa kehadiran kita sebagai tanda hormat kepada sesama muslim.
b. Ucapkanlah salam kepada orang yang ditamui
c. Tersenyumlah, karena tersenyum adalah ibadah
d. Jagalah tingkah laku dan gunakan akhlak yang terpuji
e. Berbuatlah yang tidak bertentangan dengan syariat
f. Masuk dengan seizin tuan rumah, begitu juga segera pulang setelah selesai memakan hidangan, kecuali tuan rumah menghendaki tinggal bersama mereka.
2. Adab menerima tamu
a. Berniatlah menerima tamu Allah
b. Jawablah salam orang yang bertamu tersebut
c. Hormatilah semampunya dan jangan berlebih-lebihan
d. Ajaklah bicara dengan sopan dan santun
e. Persilahkan pulang atau menginap
f. Mengantarkan pulang sampai pintu pagar
Dari pemaparan diatas bahwa Tamu adalah raja maka hormatilah tamu tersebut dengan sekuat tenagamu, dan menghormati tamu itu hukumnya wajib.
e. Pendapat Para Ulama
a. Bertamu itu merupakan ajaran Islam, kebiasaan para nabi dan orang-orang shalih. Sebagian ulama mewajibkan menghormati tamu tetapi sebagian besar dari mereka berpendapat hanya merupakan bagian dari akhlaq yang terpuji.
b. Pengarang kitab Al Ifshah mengatakan : “Hadits ini mengandung hukum, hendaklah kita berkeyakinan bahwa menghormati tamu itu suatu ibadah yang tidak boleh dikurangi nilai ibadahnya, apakah tamunya itu orang kaya atau yang lain. Juga anjuran untuk menjamu tamunya dengan apa saja yang ada pada dirinya walaupun sedikit. Menghormati tamu itu dilakukan dengan cara segera menyambutnya dengan wajah senang, perkataan yang baik, dan menghidangkan makanan. Hendaklah ia segera memberi pelayanan yang mudah dilakukannya tanpa memaksakan diri”. Pengarang juga menyebutkan perkataan dalam menyambut tamu.
c. Berkata Imam Qutaibah, bila Imam Malik keluar menyambut tamunya beliau berpakaian indah, memakai sifat mata, wewangian dan membagi bagikan kipas kepada masing masing tamunya, ia adalah Imam yang sangat berwibawa, majelis dirumahnya selalu hening dan tak ada suara keras dan tak pula ada yang berani mengeraskan suaranya, ruangan beliau dipenuhi kesejukan dan ketenangan, dan beliau dimakamkan di kuburan Baqi’

BAB III
PENUTUP

1. Kesimpulan.
Demikianlah, sesungguhnya dalam islam itu tertata dengan rapi, dan sangat lembut untuk menuju kehidupan yang lebih harmonis kepada semua insan tanpa ada pilih kasih, dan sesungguhnya sikap manusia yang penuh kesadaran meskipun kepada orang asing karena mereka itu masih keturunan Nabi Adam As. Mengingat ayat 70 Surat al-Isra yang artinya: “Sangat Kami muliakan keturunan Nabi Adam dan Kami sebarkan segala yang berada didarat dan lautan, juga Kami mengutamakan mereka lebih utama dari mahluk lainnya”. Kesimpulan dari ayat ini bahwa kita sekalian seharusnya saling harga menghargai, jangan timbul kekecewaan, mengingat surat al Maidah yang artinya: “Hendaklah tolong menolong dengan sesama dan dalam melaksanakan kebajikan dan ketakwaan dengan sungguh-sungguh terhadap Agama maupun Negara, sebaliknya jangan tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan terhadap perintah Agama maupun Negara”.
Jadi semakin jelas bahwa kita sebagaimana model interaksi yang ideal antar kita dengan orang yang lebih tinggi dari kita, dengan sesama dalam arti yang sederajat dalam segalanya, dengan orang yang ada dibawah kita dan dengan fakir miskin. Dan islam juga menjelaskan bahwa kedamaian lahir bathin akan terwujud ditengah-tengah masyarakat manakala masing-masing individu berpegang teguh terhadap etika sosial. karena ada dalil “ sesungguhnya sesuatu itu tergantung pada niatnya” dan “ perintah kepada sesuatu, berarti melarang pada sesuatu”. Jadi kami menyimpulkan bahwa hukum untuk Menghormati tamu dan tetangga Serta menyantuni kaum dhu’afa itu tergantung pada individu masing-masing.
Adapun menurut hemat kami ada beberapa hukum sebagai berikut:
1. Wajib, jika perbuatan tersebut tidak membawa kemudharatan kepada kita, tapi sebaliknya akan membawa tatanan hidup yang harmonis dalam khasanah masyarakat yang madani.
2. Sunah, jika perbuatan tersebut tersebut akan membawa dampak yang sangat positif bagi kelangsungan bermasyarakat.
3. Mubah, jika perbuatan tersebut tidak berlebih-lebihan, atau dalam kata lain tidak membawa efek yang membahayakan dan kelangsungan bermasyarakat.
4. Makruh, dalam devinisinya adalah suatu larangan jika ditinggalkan mendapat pahala, dan jika dilakukan tidak mendapatkan siksa. Maka menurut kami, jika perbuatan tersebut tidak membawa akibat yang buruk dan juga tidak membawa mambawa manfaat, maka lakukanlah untuk masalah ini.
5. Haram, jika Menghormati tamu dan tetangga Serta menyantuni kaum dhu’afa akan membawa kerusakan tatanan kehidupan bermasyarakat serta social, maka hindarilah untuk Menghormati tamu dan tetangga Serta menyantuni kaum dhu’afa tersebut. Waallahu a’lam.

DAFTAR PUSTAKA

http://elbaruqy.blogspot.com/2011/01/hadits-ibadah.html

1 Komentar »

  1. Fajar Said:

    terima kasih ya ..
    semoga makalah ini bermafaat ..


{ RSS feed for comments on this post} · { TrackBack URI }

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: